Son heung min memegang kuat sikap respek dan pernikahan
Agen Bola Terpercaya

Son heung min memegang kuat sikap respek dan pernikahan

Son Heung-min bertekad menikmati betul kariernya sebagai pesepakbola. Tapi sekalipun ia ambisius, nilai-nilai kemanusiaan takkan dilupakan. Bersama Tottenham Hotspur, Son melontarkan kariernya ke level yang belum tercapai sebelumnya. Di Jerman, bersama Hamburg dan Bayer Leverkusen, namanya belum sepopuler ini.

Premier League yang ingar-bingar, punya perputaran uang terbesar dari liga-liga seluruh dunia, berisi para pemain dan manajer top, membantunya menjadi pesepakbola papan atas. Kendatipun belum berhasil memenangi trofi bersama Tottenham, Son sudah mencicil jalannya sedikit demi sedikit. Dia sudah membantu Tottenham finis di empat besar, lolos Liga Champions tiga musim beruntun. The Lilywhites bahkan jadi runner-up di musim 2016/2017 lalu.

Musim ini kans melanjutkan catatan itu terbuka lebar, dengan Son dkk sementara menempati posisi tiga klasemen. Di Liga Champions, Tottenham akhirnya kembali ke perempatfinal setelah kali terakhir pada 2010/2011 silam. Secara performa, Son juga terbukti cukup konsisten. Musim ini dia sudah bikin 16 gol plus sembilan assist dari 37 penampilan.

Sepakbola tak melulu soal ambisi, baik kolektif maupun individu. Son bertekad untuk tetap menjaga respek dan nilai-nilai kemanusiaan di lapangan, terlepas dari target-target yang diemban. “Ayah saya bilang ke saya ketika saya masih kecil, bahwa kalau saya sedang menghadapi gawang tapi seorang lawan terjatuh dan terluka, saya harus membuang bola dan mengecek pemain tersebut,” ujarnya.

“Karena kalau Anda jadi pesepakbola yang bagus tapi tak tahu bagaimana caranya menghormati orang lain, Anda bukan siapa-siapa. Dia masih berpesan itu kepada saya. Terkadang memang sulit, tapi kita adalah manusia biasa sebelum seorang pesepakbola. Kami harus menghormati satu sama lain. Di lapangan, di luar lapangan, kenapa harus berbeda?” imbuh Son.

Son bercerita bahwa sang ayah memang berperan besar dalam memoles kemampuan sepakbolanya sejak kecil. Apalagi beliau sempat melatihnya di sekolah. “Ketika saya usia 10 atau 12 tahun, dia melatih tim sekolah saya dan kami saat itu berlatih, 15 atau 20 pemain. Programnya saat itu adalah menjaga bola tak jatuh ke tanah selama 40 menit,” sambung Son.

“Ketika seseorang menjatuhkan bola, ayah saya diam saja. Tapi saat saya menjatuhkan bola, dia membuat kami mengulang dari awal lagi. Para pemain mengerti karena saya putranya, dan ya, itu berat. Tapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, itu cara yang benar,” imbuhnya. Sang ayah diakui keras dan disiplin, tapi Son percaya tanpa semua yang dilakukan sang ayah, dia takkan bisa sampai di titik ini. Didikan itu memegang peran besar dalam kariernya.

“Apakah dia pelatih yang tegas? Ya. Juga menakutkan,” kata Son. “Saat itu ayah saya memikirkan tentang apa yang saya butuhkan. Dia melakukan segalanya untuk saya dan tanpanya, saya mungkin takkan sampai di posisi saat ini.”

Komentar

Tempatbet.com Copyright : Agen Bola - Judi Bola - Taruhan bola - Casino Online